Salam hujan-hujanan
dari Malaysia,
Ya, mungkin ini kali pertama aku menulis ,lalu tanpa
segan silu terus dihantar untuk dibaca pertama-tamanya oleh Masgun. Dan mungkin
saja bahasa Indonesianya kurang baik dan jelas, harap Masgun bisa membacanya
ya. Awalnya, aku tidak tahu perkataan apa yang harus ditulis tapi mana ada
akhirnya juga tidak dimulai dulu, kan.
Tulisan Masgun yang pertama sekali aku temui adalah
di akaun tumblrnya yang bertajuk, “Mencari Tahu”. Tulisan itu begitu menggetar
kan jiwa tiap kali aku mengulanginya , lalu aku berfikir sendiri, “ Ya Tuhan,
adakah aku seperti itu kepada-Mu?”. Karena manusia itu kadang-kadang tidak
sadar perbuatannya sesama makluk apatah lagi kepada Tuhannya. Moga-moga Allah
tetap menjaga kita semua walaupun seharian kita telah berdosa kepada-Nya tanpa
kita sadari. Kerana Aku berpegang kepada Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. Jika bukan kepada Dia, kepada siapa lagi?
Pada ketika Masgun mengumumkan tulisannya akan dibukukan,
ku gunakan juga sampul yg tersedia duit raya hanya untuk membeli Hujan
Matahari. Aku itu bukanlah orang yang suka membaca apatah lagi untuk menulis. Tapi pabila manusia
suka sekali pada satu perkara itu, yang mustahil juga boleh jadi bisa, kan.
Melalui udara, akhirnya Hujan matahari sampai ke bumi Malaysia. Satu naskhah
buku yang lama sekali kutunggu-tunggu di
muka pintu rumah.
Kulihat tulisan masgun itu menyentuh berbagai hal, misalnya
soal Tuhan dan makhlukNya, soal ibu & bapak, soal pahala dan dosa, soal
diri sendiri, soal syukur dan berbagai soal lagi. Mungkin kita sering terlepas
pandang hal ini kerana sibuk mengejar yang tiada sehingga lupa apa yang telah
ada. Itu namanya manusia, tidak ada yang sempurna. Termasuk soal jodoh dan
pertemuan yang membuatkan aku senyum tersipu-sipu bagaikan orang gila yang
kesepian. Masgun bisa bercerita segenap apa yang terlintas di kotak fikiran
kita. Cuma yang beda nya, mungkin kebanyakan kita sering tersekat di dalam kotak yang sama sahaja.
Tidak cukup dengan senaskah itu,setiap hari aku mendengar
suaracerita sambil aku melukis. Heran kerna tidak bosan sekali mendengarnya meski
berulang-ulang kali. Penangan Hujan Matahari itu luar biasa sekali bagiku. Kukira
hebat sekali pada orang-orang yang menulis yang bisa membuat orang lain bisa tertarik
hanya melalui perkataan. Bila sedang asyik menulis, tidak tahu berhenti pula. Sekarang
baru ku paham, dengan menulis, suara akan tetap dikatakan meski ianya tidak
berbunyi. Mungkin sesetengah dari kita malu untuk mengatakan, tidak mahu
dikenali banyak orang, dan lebih senang ketika menulis. Dan mungkin itu yang kurasakan buat tulisan pertamaku ini.
Dan aku percaya setiap apa yang kita lakukan akan berhasil lewat doa dan harapan
yang tidak putus-putus kepada-Nya .Aku, Bekas mahasiwi dari Malaysia yang masih mempunyai impian lain dan
juga hanya seorang sahabat yang bisa berhujanan bersama-sama denganmu.
‘Dari mata yang sering melihat, Dari bibir yang terus
membaca, Terus jatuh turun ke hati ,persis seperti Hujan Matahari”